KOMPAS.com – Salah satu bandara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura I (AP I), yakni Bandara Juanda sempat mengalami penumpukan penumpang saat syarat rapid test antigen diberlakukan.

Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena pihaknya menawarkan layanan dengan harga terjangkau.

“Kita terapkan dengan harga yang sangat terjangkau, sehingga apa yang terjadi waktu itu sempat timbul penumpukan di awal penerapan,” katanya.

Baca juga: Bandara Changi Singapura Ingin Jadi Penyimpanan Vaksin Covid-19, Bagaimana dengan Indonesia?

Pernyataan tersebut Faik sampaikan dalam konferensi pers virtual “Update Angkutan Nataru 2020-2021”, Rabu (30/12/2020).

Saat itu, harga yang ditawarkan adalah sekitar Rp 170.000. Sementara di tempat lain yang sudah tersedia layanan rapid test antigen, harganya Rp 400.000–Rp 500.000.

“Waktu 17-18 Desember 2020, sempat penumpukan di Surabaya karena alternatif pemeriksaan kesehatan berbasis antigen waktu itu tersedia di bandara, tempat lain belum,” ujar Faik.

Baca juga: Turkish Airlines Batal Terbang Reguler ke Bali, Dirut AP1: Fokus Domestik

Tidak hanya itu, dia mengatakan bahwa saat itu bandara merupakan tempat yang terlihat paling siap dalam melayani rapid test antigen dibanding tempat lain.

Sebagian besar klinik pun belum menyediakan layanan tersebut. Adapun, penumpukan terjadi karena mayoritas pengunjung bukanlah calon penumpang, melainkan masyarakat biasa.

“Orang yang pakai transportasi lain malah ke bandara karena memang ada, siap, dan harga lebih terjangkau,” ujar Faik.

Antisipasi keramaian